Tampilkan postingan dengan label CERBUNG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERBUNG. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Februari 2016

MAGIC MINUTE Chapter IV ''Satu Kisah yang Tidak Harus Dipercaya''

CHAPTER IV
‘’Satu Kisah yang Tidak Harus Dipercaya’’

Betapa indahnya senja itu merunduk dengan lesu, seperti dirujami rindu. Ormuzd yang berperan sebagai dewa terang tak bisa berbuat apa-apa kecuali menyatakan kekalahannya kepada Ahriman. Gelap mulai menyelimuti langit-langit sore. Burung-burung mulai bergerombol berterbangan kembali ke sarang dengan campuran riuk angin-angin yang tenang. Aku menyeruput kopi, masih hangat. Sedang lelaki di sebelahku masih khusyuk memandang palet langit-langit Azura yang mulai pudar jingganya. Sungguh tampan ketika muka mulus itu terpampar sinar kekuningan, ingin aku.. sssst jangan diteruskan nanti ada anak kecil baca. Bahaya!
Inilah kita sekarang, bukan hanya kumpulan subjek yang beratasnakaman ‘’aku dan kamu ’’ tapi sudah menjadi satu kesatuan yang berbentuk ‘’kita’’. Aku tidak sungkan lagi untuk menuliskannya. Karena dalam aku, sudah ada kamu, begitu juga sebaliknya. Aku memegang tangannya yang hangat, tidak lebih hangat dari kopi yang baru saja aku seruput itu. Aku mencium tangan itu dengan lembut. Sedang senja sudah tidak menampakan apa-apa lagi. Hanya ada lilin dihadapan kita sebagai pemanis romansa. Dan aku bisa melakukan apa saja dengannya tanpa sungkan. Ah maaf, khusus kisah ini memang tidak diperuntukan dibaca oleh anak-anak. Eh tunggu.. sebentar! Kenapa di kisah ini aku dibuat menjadi pihak yang agresif? Ah tidak masalah, jika aku memang mau he..he.
Beginilah akhir dari kebahagianku. Pada akhirnnya Tuhan menyerah dengan rengekan doa-doaku. Entah dengan suka atau duka, Ia sudi mempersatukan dua orang sinting ini. Aku tidak ingin menjadi waras jika itu indikator untukku berpisah dengannya. Lagian apa itu waras juga masih diperdebatkan oleh Hegel dan kawan-kawannya.
Keluarga mungil yang bahagia, dengan rumah kecil yang sederhana. Taman luas dengan berbagai tanaman bunga. Ada perpustakaan dan ruang santai untukku menghabiskan berajam-jam di sana. Aku bilang padanya ‘’aku gak mau rumah besar, nanti capek bersih-bersihnya’’ dia cuma senyum meng-iyakan. Aku juga bilang ‘’aku mau ada danau di belakang rumah biar bisa duduk berdua, ngobrol santai sambil melihat senja’’ dia senyum lagi-lagi meng-iyakan. Kamu tahu betapa bahagianya aku memiliki dia. Pegang dadaku deh, pelan saja tapi. Denger nggak? Kayak ada suara air mendidih. Panas dan meletup-letup.
‘’Kasian Socrates, di saat anak-anak jaman sekarang lagi suka main game, anime dan sosmed, dia di jaman dulu justru sibuk murung sambil ngorek-ngorek tanah’’ ucapku santai sambil menyeruput kopi yang mulai dingin. Inilah keseharian kita, ketika selesai berutinitas. Membicarakan hal-hal tidak penting diantara hal paling tidak penting lainnya. Tujuannya adalah untuk menjaga hal-hal penting agar tetap eksis. Itu kutipannya Wisnu Nugroho di bio twitternya.
‘’Murung juga bagian dari proses berfikir. Aku berfikir maka aku ada. Mungkin dengan murung itulah, dia merasa menjadi ada’’
‘’Haha cogito ergo sum’’
‘’Mungkin Thomas Alva Edison juga demikian ketika menciptakan lampu. Dia berada dalam ranah kosong, kegelapan, yang menurut Plotinus gelap itu tidak ada yang ada hanya kekurangan cahaya’’ dia henti sejenak, menyeruput kopi sambil memandang genangan air danau yang bersinar akibat pantulan cahaya bulan. Aku mengamatinya.
‘’Lalu?’’
‘’Munculah lampu’’
‘’Udah?’’
‘’Hmm’’
‘’Sungguh pernyataan yang cerdas, inspiring!’’
Hahaha.. kita tertawa dengan kebegoan masing-masing.
‘’Emilia Clark pernah gak sih kesleo lehernya pas lagi ngulet?’’
BRUZZZZZZZz!!! Terdenger dentuman seperti roket berkekuatan massiv meledak di samping rumah kami. Aku terperanjak mencari asal-muasal suara itu. Dia masih duduk santai di kursinya nyomot gorengan lalu memasukan cabe ke mulutnya. Keadaan menegangkan dengan sentuhan dark ini seperti perpaduan antara Romantisme Jerman dengan Eksistensialisme Klasik. Beberapa makhluk aneh muncul, bentuknya seperti lobster yang bisa berdiri dan memiliki dua kaki. Mereka mengerubungi kami. Baginya kami ini hanyala sepotong risoles yang jatuh dilantai lalu dikerumi laler-laler, dan merekalah lalernya.
‘’Siapa kalian?’’ ucapku tegang, aku memegang lengan suamiku, menikmati ketegangan Fasisme Mussolini.
‘’Apa kalian ini Homarus?’’ ucap suamiku sok tahu.
‘’Kamu benar, kamu tahu namaku, kalau begitu aku tidak jadi menyerang kalian, aku akan kembali ke dimensiku. Selamat tinggal’’ ucap monster itu gembira.
‘’Heh jangan sontoloyo kamu, bukannya kalian itu hanyala makhluk Tuhan yang salah rupa!’’ ucapku sok tahu juga.
‘’Biadab!’’ ucap monster itu yang tahu kalau dia begitu.
Monster-monster yang berjumlah puluhan itu mulai membentuk lingkaran merubungi kami berdua yang berada di tengah-tengahnya. Mereka mengelurkan semburan api dari mulutnya. Tuhan mungkin sedang sibuk sehingga lupa bahwa Naga yang harusnya berperan seperti itu. Ah suka-suka Tuhan lah.
CRAAAAZZZZ! BRUZZZZZ! PRAAAAAKKK! PREKETEKKKK! KREK! KREK!
Suara leher suamiku yang diplintir ke kanan dan ke kiri, dia sudah berancang-ancang untuk melindungiku.
‘’Palu Thor!!!’’ tangan kanannya menengadah ke langit.
JDAAAARRR! Suara petir bergemuruh. Lalu sesuatu melucut seperti kilatan dengan kecepatan cahaya menuju ke tangan suamiku. Itu palunya Thor. Huahahahaha tawanya keras, bahagia dia.
‘’Kalian monster salah rupa tidak akan bisa dengan sontoloyo menginvasi bumi!’’
‘’Rasakan ini, mahluk berbau manusia!’’ wuzzzzz semburan api muncul dari mulutnya, namun dengan sigap suamiku menghalau dengan palu Thor.
JDARRRRRRR! Suara petir kedua datang lebih gemuruh, seseorang meluncur dari petir itu, ia bermuka garang dengan baju besinya.
‘’Siapa kamu?’’ ucapku deg-degan.
‘’Aku Thor, kembalikan paluku!’’

HAHAHA! Aku tertawa geli, menutup muka saking malunya membayangkan hal-hal ajaib seperti itu.
‘’Kamu autis apa gimana sih dari tadi ketawa-ketawa sendiri ga mau bagi”
‘’Cinta bisa saja autis, tapi itu yang buat kamu beda’’
‘’Monyong!’’
Aku dan temanku sedang duduk di pojok salah satu rumah makan langganan. Aku suka pojok, bukan berarti suka dipojokkan atau memojokkan sesuatu, suka aja, nggak ada alasan apapun.
Masih pertengahan November, dan lagu surya kembara mengiringi sore itu. Aku tidak lagi rindu dengan siapapun. Aku hanya ingin mendengar lagu itu di bulan hujan, dan kebetulan ada kata ‘merindu’ di akhir liriknya. Epik!
Seperti biasa, aku kesepian yang termanipulasi menjadi kurang kerjaan. Ada segelas susu serta beberapa biskuit untuk menemani rasa brengsek itu. Aku membuka sosmed dan menemukan satu pesan yang ketika aku buka, lagu surya kembara telah usai dengan kata ‘merindu-nya’ yang entah bagaimana aku sadar, apa yang aku rindukan telah hadir dalam bentuk virtual.
‘’Aku minggu kemarin ke Jogja. Niatnya pengen mampir, eh kamu di sms gak masuk’’
Itu yang tertulis di pesan, aku biasa-biasa aja awalnya ketika membaca. Namun, lagu The Smiths- Heaven knows I’m miserable now bersuara lain, seolah-olah menyadarkan kalau aku sedang dipecundangi takdir. Mungkin Tuhan belum menakdirkan aku dan dia untuk bertemu dalam realita fisik yang utuh, karena saat itu aku sedang jerawatan. Tapi itu bukan prioritas! Aku tidak ada masalah dengan tampilan mukaku saat itu. Aku sudah cantik dalam keadaan apapun, dalam indikatorku sendiri. Tapi Tuhan mana tahu itu? Aku tidak harus dipertemukan dengannya dalam keadaan cantik kan? Intinya, aku mengutuk takdir dan segala kebodohanku untuk tak acuh dengan ponsel sendiri yang lebih memilih mengaktifkan paket kuota.
‘’Hah ngapain? Kapan ke Jogja lagi?’’ aku seolah-olah terkejut, entah dia sadar atau tidak, aku memang terkejut dengan kebodohan diri sendiri.
Mungkin kesannya aku sedikit memohon untuk dia mendatangiku saat ke Jogja lagi. Dia memang akan datang untuk urusan pekerjaan, sekitar akhir minggu ini. Dan selama satu minggu itu, setiap mau mandi aku jadi suka ngacak-ngacak air di bak mandi. Itu hanya bentuk eskapis saat aku marah dengan diri sendiri.
Satu minggu berlalu. Dia tidak menghubungi. Persetan dengan gengsi! Untuk kali ini, aku merasa tidak masalah ketika harus menghubungimu lebih dulu untuk menanyakan ‘’kamu jadi datang?’’ Aku ingin menemuinya. Rasa haus ingin bertemu, entah mengapa lebih mengeringkan dari tanah yang menahun tak dirundungi hujan. Begitulah analogi yang dikatakan pujangga sok romantik itu.
Desiran karbondioksida semakin memenuhi ruang 2x4 yang aku tinggali selama beberapa waktu ini. Tak ada bunyi lain selain ‘’kruyuk..kruyuk’’ dari perutku yang aku abaikan. Sampai saat ini aku tidak tahu, mengapa seseorang bisa menyayangi suatu hal, melebihi rasa lapar dari perutnya sendiri. Mendadak aku lelah untuk menjelaskan jenis lapar secara fundamentalis. Yang aku tahu, kamu memang tidak datang.
Kedatanganmu bagiku hanyalah menstruasi yang tidak tepat waktu. Adakalanya hormon menjadi penghambat. Jika tidak ada sel sperma yang membuahi, dinding rahim itu akan runtuh. Dan kamu akan datang. Aku yakin itu.
Aku menyayangimu, melebihi dari siapapun. Meskipun aku menyayangimu, aku ingin sekali marah. Aku ingin meneriakan kekesalan ini dengan siapapun yang ingin mendengar. Kamu tahu? Aku ingin kamu ada. Meski kamu selalu ada. Selalu hadir dalam realita fisik yang tidak utuh. Aku ingin kamu benar-benar ada, merasakan hangat saat dua tangan saling berjabat. Aku ingin kamu ada di sini, menemaniku. Membicarakan rumus mekanika kuantum atau tentang bagaimana ikan paus melahirkan tanpa ia harus mengerang kesakitan. Aku ingin membicarakan apapun yang tidak penting denganmu. Berdebat tentang teori-teori bullshit yang tidak akan menghadirkan perdamaian dunia. Kendati begitu, aku akan merasa nyaman.
‘’Aku belum ke Jogja, kemungkinan akhir bulan ini’’
Mendapat pesan itu aku semakin mengutuk rasa brengsek ini. Akulah oportunis yang menginginkanmu datang. Entah bagaimana bisa, kata ‘’kemungkinan’’ bagiku hanyalah fana, ia hadir sebagai pelengkap kalimat yang menyatakan bahwa aku terlalu banyak berkhayal yang menginginkanmu ada.
Akhir bulan sudah lewat, bahkan akhir tahunpun datang. Aku sudah menunggumu selama itu dengan perasaan dinamis yang bergerak monoton. Aku ingin percaya dengan segala kemungkinanmu, sungguh aku ingin begitu. Tapi tidak dengan takdir. Ia berencana lain yang tidak sependapat denganku. Dialah yang apatis selama ini mengatur urusanku.
Perkara kehadiran, entah mengapa menjadi hal yang rumit. Kamu seperti rasa kebelet pipis yang jadwal hadirnya tidak bisa diprediksi. Bagimu mungkin ini sesuatu yang sepele. Karena masing-masing rasa kita berbeda. Kamu tidak pernah tahu, aku menunggumu kesakitan yang selalu percaya dengan kata ‘kemungkinanmu’ untuk hadir. Tapi kamu di sana mungkin saja sedang asik main Clash of Clans yang tidak pernah aku mengerti cara mainnya.
Aku membiarkan dua bulan terbuang dengan penungguan sia-sia. Aku meronta kesal dengan jalan hidupku sendiri. Kalau Tuhan baik, apa boleh aku meminjam catatan-Nya untuk mengintip sedikit tentang pertemuanku dengan makhluk sinting itu? Adakah tertulis di sana? Jika memang ada, aku pasti bahagia.
Siang itu mendung, sudah Januari. Tapi aku tidak menginginkan apapun dari bulan kelahiranku itu. Banyak suara, tapi kali ini aku tidak merasa terganggu. Aku membiarkannya masuk ke telinga dan suatu saat aku pasti akan mengingatnya. Bahwa aku sedang berada di candi, untuk meluapkan perasaan. Aku menjadikan keinginan bertemu dan segala kekesalan sebagai rahasia untukku nikmati sendiri. Akan aku simpan rapat-rapat di tempat ini. Aku berkeliling candi mencari celah lubang untukku bisa berbisik di sana.
Aku meletakkan kepalaku di puing. Merabanya dengan tanganku untuk meyakinkan bahwa ia akan baik-baik saja mendengar segala resah. Dan di lubang itulah aku bercerita segalanya. Tentang kisah dua orang sinting yang tidak harus dipercaya.
Aku hanya ingin bertemu denganmu. Entah mengapa memang harus.

TO BE CONTINUE~

 Baca cerpen sebelumnya, here--> S.H.M.I.L.Y

Senin, 23 November 2015

MAGIC MINUTE Chapter III ''S.H.M.I.L.Y''

Chapter III
S.H.M.I.L.Y



‘’Asik deh yang mau wisuda’’
‘’Tapi belum move on juga tuh’’
‘’Taik! Bertahan sampe 7 tahun lebih, stuck di orang yang sama, gak variatif banget hidupmu haha’’
‘’Bisa diem gak kalian?’’

Itulah pernyataan membabi buta yang terkesan menghina dan terkadang cenderung nampar. Kita berempat sedang duduk santai di angkringan dekat kampus negeri. Tempat salah satu temanku menempuh kuliah, dan sialnya dia sudah wisuda duluan. Mereka merupakan sohib terlama yang sudah menemani  dalam suka dan kebanyakan duka selama hampir  11 tahun, sejak kita masih ingusan  pakai seragam putih biru.

Ucapan mereka seperti menari-nari di depan wajah yang mampu menampar dalam sudut kenangan kelam 2 tahun lalu. Saat aku percaya diri untuk memberikan lukisan wajahnya sebagai ungkapan perasaan, saat pertemuan antah berantah yang membuatku bimbang ingin menangis atau tertawa dan saat semua perasaan tidak pernah terbalas. Aku mengingat pesan terakhir yang aku kirimkan padanya, yang masih tertata rapi di ponsel usangku itu.

‘’He?’’
‘’Iya’’
‘’Cuma mau ngucapin selamat hari kemerdekaan RI yang ke-70’’
‘’-_- bisa nggak kasih selamat yang lain, kayak dapat hadiah misal’’
‘’Yaudah, selamat kamu dapat hadiah’’
‘’Mana hadiahnya?’’
‘’Hadiahnya, coba deh kamu keluar rumah terus liat langit. Di situ ada beberapa bintang, kamu boleh ambil satu’’

Sudah berjam-jam pesan itu tidak terbalas, mungkin dia sudah langganan kehabisan pulsa atau memang dia tidak minat untuk membalas karena tidak ada hal penting lagi untuk dibicarakan meski sekedar becandaan seperti biasanya. Lalu aku mengirim pesan lagi.

‘’Kalo aku cinta sama kamu gimana?’’ tanganku gemetar untuk mengirim pesan hina itu dengan mengklik tombol keramat ‘’send’’. Jantung berkontraksi, sekaligus membodohi diri sendiri. Beberapa detik kemudian aku menyunggingkan senyuman geli ‘’message failed’’. Bitch! Sudah kuduga pulsa habis haha.

Pada akhirnya pesan menggelikan itu dibiarkan olehnya, mungkin dia muak. Sampai 2 tahun berjalan pesan itupun tidak pernah ada balasan meski satu aksara. Aku dan dia terpisah tanpa selamat tinggal atau basa-basi romansa seperti orang-orang yang menjalin hubungan, karena memang aku dan dia tidak pernah ada ikatan. Dia sadar aku bukanlah pilihan terbaiknya dan aku juga menyadari bahwa memang menyakitkan saat perasaan yang meluap tidak pernah terbalas meski diketahui bahkan cenderung terabaikan. Lali, akupun memilih untuk menghilang tanpa ingin tahu lagi kabar manusia sinting itu.

Pertemuan bersama tiga temanku cukup mengasyikan, kami berbincang banyak tentang cerita masing-masing pihak yang cukup membuat kontraksi perut meningkat dengan tambahan hormon dophamin yang meluap. Namun saat itu pikiran entah menghilang kemana, ada seseorang di ujung sana yang sedang memungutnya. Aku memutuskan untuk pulang lebih dulu, sekitar pukul 22.00 Waktu Indonesa Baper, aku mampir ke salah satu mini market yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahku. Tempat di mana  aku dan dia pernah berdiri di lantai yang sama dalam satu atap. Aku membeli Root Beer lalu duduk di salah satu bangku, menikmati malam yang semakin memanggil kenangan di masa dulu. Tentang dua orang autis sedang berdiri saling bertukar gulungan keramat. Aku tersenyum memikirkan kekonyolan itu, lalu tiba-tiba dada seperti tersengat sesuatu bermuatan listrik yang mengakibatkan perut mual, ternyata ingatan kembali melintas batas kesadaran kepada masa saat aku ingin mengungkapkan perasaan, yang berujung pada hal memalukan. Matakupun berkaca-kaca, entah kenapa mual semakin terasa saat pikiran kembali sadar bahwa ia yang sepertinya masih di bumi, lupa akan hal-hal biasa yang sudah terjadi antara kami berdua. Aku dan dia menginjak tanah yang sama namun saling lupa untuk bertukar kabar ataupun saling sapa dalam pesan.

Aku membuka sosial media dan menstalking akunnya, bersih dan terawat. Sepertinya dia sangat menyayangi akunnya itu, setiap hari disapu dan dipel dengan pengharum beranda, hmmm. Ketik aku melihat satu foto dengan jumlah 28 like aku hanya bisa diam sambil meneguk root beer dengan ganas, karbon-karbon yang terkandung dalam minuman itu semakin memanaskan suhu tubuh. Lalu aku memilih untuk pulang, dan masih tetap terdiam sepanjang perjalanan pulang.

Kadang pilihan terbaik saat sesak tidak bisa diluapkan hanyalah diam. Berbaring di kasur sambil memandang palet langit atap dengan kesunyian tanpa gema di sudut-sudut ruang. Aku beranjak dari kasur dan menemukan Bapak sedang asyik nonton tivi dangdut kesayangannya. Aku duduk disebelahnya. Terdiam. Cukup lama. Bapak juga diam sambil sesekali tertawa karena banyak adegan konyol dari aktor ga lucu itu.

‘’Pak?’’ sahutku dengan sedikit nada kelu, ada sesuatu yang nyangkut di tenggorokan.
‘’Kok baru pulang, ngapain aja, pergi sama siapa aja kamu?’’ Cecer bapak yang udah menjadi pertanyaan rutinitas. Aku hanya diam. Bapak masih sibuk dengerin banyolan artis-artis gak lucu itu.
‘’Pak’’ ucapku lirih, ngilu di sekitar tenggorokan bereklifase menuju ke sela-sela muka. Rasanya masih sama, dari dulu bawang merah masih terasa pedih di mata.
‘’Pak..’’ ada jeda ‘’kok gak ada yang cinta sama wiwin ya?’’ ucapku sedikit sesenggukan, entah sadar atau tidak itulah pernyataan argumentatif mengilukan yang berhasil keluar dari persembunyian, seolah-olah itu benar dan tidak lagi ingin dibungkam. Rasanya lega, mengetahui realita, bahwa dia di ujung sana, sama sekali tidak pernah cinta, meski sedikit, sedikit saja.
‘’Seseorang gak bisa memilih kepada siapa ia harus jatuh cinta. Kamu juga tidak harus memaksa sesuatu yang gak bisa kamu kendalikan’’ itulah fatwa bapak yang begitu mujarab, dan saat itu pula aku sadar, kesedihan karena jatuh cinta sendirian itu sia-sia. Dan sialnya aku menikmati kesia-siaan itu.

Hari ini tiba juga. Aku duduk di kursi dengan hidangan kue di tangan yang enggan aku santap, meski harumnya memanggil-manggil. Aku mengamati sejenak, ada ruang keikhlasan yang berhasil aku tembus untuk menempatkan dia dan wanitanya bersanding di pelaminan. Aku sadar itulah takdir yang Tuhan kendalikan. Bahwa, aku bukanlah pilihan utama. Bahkan, untuk sekedar alternatif pun hanya metafora. Aku bukanlah apa-apa. Aku dan dia hanyalah konsep gagal yang Tuhan selundupkan untuk sekedar mencicipi kenangan.

‘’Makasih win, udah mau datang’’
‘’Kamu juga harus dateng saat wisudaku nanti ya haha’’

Tanganku dan dia bersalaman, tidak cukup lama. ‘’Dan inilah puncak mencintai seseorang, saat kamu mampu merelakan dia menikah dengan wanita lain yang lebih baik dari kamu’’. Wanita itu memiliki segalanya yang tidak bisa aku berikan ‘’Cinta yang nyata’’ karena selama ini aku sadar, aku hanya pecundang yang mencintainya hanya sebatas narasi platonik sampah, tanpa mampu terucap. Wanita itu yang pantas! Meski aku juga pantas, tapi bagi dia tidak.

Aku duduk di sebelah salah satu temanku yang aku ajak ke pernikahannya, teman priaku yang menemaniku selama di Jogja. Kita seperti dua orang kaku yang duduk dengan begonya melihat dua pasang bahagia. Dia dengan lahap memakan kue coklat yang bagiku tidak enak. Aku beberapakali gelesotan di kursi, ada sesuatu yang.. ah!

‘’He!’’ Teriaku. Beberapa orang melirik heran, temanku mengamini.
Dia yang sedang duduk bersama wanitanya. Memandangku juga. Sedikit heran mungkin, melihat wanita sinting teriak di kerumunan. Aku abaikan mereka, seolah mereka mendoan yang mengambang di penggorengan.

‘’Dengan segenap kemunafikan, aku bahagia melihat kamu menikah sekarang. Meski bukan aku yang berdiri di sana’’ aku berkata-kata tanpa malu. Semua orang memandang dengan geli, sebagian takjub. Temanku masih duduk santai, sudah terbiasa dengan kesintinganku.
‘’Kamu tahu ini mas?’’ aku mengambil gelas berisi es teh, lalu kumasukan gula. Dan kuaduk dengan ganas. Kubiarkan gula itu larut. Dan kutumpahkan ke lantai.
‘’Ini lukaku mas!’’ aku meletakan gelas kosong itu ke salah satu meja yang berada di dekatku dan kutarik tangan temanku yang entah bagaimana dari tadi dia masih asik makan kue cokelat tanpa henti.

Dan pada akhirnya aku berhasil mempermalukan diri sendiri dipernikahan seseorang yang.. entah sulit sekali meneruskan kalimat biadab itu. Dulu, aku mencintaimu secara kekanak-kanakan tapi kali ini aku hanya bisa mencintaimu secara ugal-ugalan. Aku tidak pernah mencintaimu secara pantas. 

Aku terduduk di pinggir jalan. Enggak nangis, meski ingin. Temenku berdiri di sebelahku, masih melahap kue cokelatnya. Brengsek sekali orang ini!

Dia tiba-tiba ada. Dibelakangku. Baru kali ini aku menjadi pihak yang dikejar. Entah dalam scene ini aku harus bahagia atau menangis.

‘’Aku mau mengembalikan ini’’ dia menyerahkan gulungan putih, yang aku tahu ada lukisan wajahnya yang pernah aku kasih dulu, yang katanya di pajang di kamarnya.
Aku terdiam.
‘’Ini’’ dia menyodorkan gulungan keramat itu ke arahku. Dan aku menerimanya.
‘’Kamu bisa miliki ini, enggak harus aku’’
Aku tersenyum entah kenapa. Senyum ikhlas atau senyum palsu yang sewajarnya. Entahlah.. senyum aja pokoknya. Gini nih senyumnya. Lihat ga?
Aku membuka gulungan keramat itu dan menunjukan sebuah tulisan yang terukir kecil di ujung kanan.
‘’S.H.M.I.LY’’
‘’Apa artinya?’’
‘’Udah gak perlu sekarang’’

Dari jauh aku melihat wanitanya berlari ke arah kami. Aku deg-degan. Dan benar saja saat mendekat, dia sedang membawa sebotol air mineral ukuran 1 liter. Aku gak lagi haus waktu itu. Tapi.. sudah bisa ketebak kan apa yang bakal terjadi?

‘’Tadi kamu lari-lari mas, jadi aku bawakan minum. Aku gak mau kamu haus’’

Taik! Ini adegan serius kenapa dibecandain.

Dan Byuuuuurrrrrrr! Ada air entah darimana membasahi mukaku. Bukan air dari botol wanita itu. Apalagi air dari mataku… Hmm. Aku membuka mata dan melihat beberapa teman sedang berdiri di kasurku seolah-olah sedang merubungi mayat.

‘’Happy born day Jomblo formalin!’’

Bangke! Sialan kalian semua. Aku melihat tanggal yang menempel di tembok kamar, tanggal 28 awal tahun. Saat itu pula aku sadar. Aku masih duduk di semester 4.


Nantikan chapter 4 yak hihi. Bye!!!


TO BE CONTINUE

Selasa, 18 Agustus 2015

MAGIC MINUTE Chapter II ''Saat Cinta Tak Harus Diam''

Chapter II
‘’Saat Cinta Tak Harus Diam’’


‘’My Pain is Knowing I Can’t Have You’’ lirik lagu dari He is We yang paling bikin kadar kortisol meningkat lalu lari kesela-sela dada. Aku menyeduh kopi mocca yang sudah hampir dingin, waktu yang melarutkan panas kopi itu, karena aku tidak cepat-cepat untuk meminumnya. Suasana malam ini begitu aku nikmati kala sendiri. Duduk di teras rumah dengan gitar yang satu senarnya sudah putus dan suara yang dihasilkan pun tidak karuan. Bulan juga telihat akrab dengan bintang-bintang. Mungkin mereka sedang menjalin hubungan diam-diam. Karena mereka tidak suka mengumbar. Aku berimaji, kita berada di bulan dan sedang bertengkar karena sulit sekali menghitung bintang dengan counting yang benar. Lalu bintangpun tertawa, melihat dua makhluk autis sedang bertengkar. Aku juga tidak mau kamu seperti bulan yang mencintai banyak bintang. Semoga kamu hanya bulan, yang mencintai malam saja.
Sudah lama sekali dia tidak mengirim aksara, atau membuat banyolan yang membuatku senyum gila. Kadang aku rindu, dan cuma bisa menunggu bahwa rindu itu tidak hanya sebelah pihak. Aku berkali-kali cek handphone untuk memastikan bahwa bukan operator sialan yang rutin mengirim pesan. Bahkan saking kesalnya aku sampai browsing ‘’bagaimana cara memblokir nomor operator’’. Aku tiduran di kasur yang sudah tidak empuk lagi. Rindu itu menjelma seperti sarang laba-laba yang menggantung di beranda, terperangkap di jari-jari yang sudah mengetik kalimat rindu, namun susah untuk memencet tombol ‘’send’’.
Aku berfikir tentang dia di ujung batas sana sedang tertawa terbahak. Saling bertukar aksara dengan seseorang yang sudah menemaninya lama. Seseorang yang selalu ada dalam pikirannya. Bahkan untuk sekilas, aku tidak pernah hadir dalam benaknya. Mungkin saja aku hanya sebatas bintang jatuh, hadir sejenak lalu mengjilang tanpa bekas. Tanpa berfikir lama aku memungut ponsel yang tergeletak di meja, memencet satu nomor dan menelponnya.
Dering pertama.. kedua…ketiga…belum ada jawaban dan dering berikutnya…sama belum ada jawaban juga. Dan dering terakhir dari ujung sana, suara yang sangat aku kenal menyapa.
‘’Kalo aku cinta sama kamu gimana?’’ ucapku datar
‘’Apa?’’
‘’Ah! Ternyata gampang juga ngungkapin ya, yaudah deh aku tutup telponnya. Beda operator mahal nyet! Haha’’
‘’Anjir! Gak jelas banget sih orientasimu nelpon malem-malem’’
‘’Itu cuma lagi latihan ngungkapin perasaan, ternyata gak sesulit soal ujian matematika’’
Krek!!! Aku menutup telepon dan langsung tertawa terbahak. Mungkin sohib priaku yang malang itu sedang tertawa geli juga. Kasihan hidupnya sudah sering digangguin dan direpotin. Setelah terapis tawa untuk meningkatkan hormon endorphin, aku kembali rebahan di kasur yang masih belum empuk juga. Aku mulai terlelap dan saat detik menuju dunia matrix, tiba-tiba ada niatan untuk tidak membiarkan ini semua diam terlalu lama. Mungkin benar katanya, sudah waktunya aku menulis kisahku sendiri dan mencoba jujur kepada diri sendiri. Tentang apa yang aku rasakan dan apa yang aku inginkan.
‘’He kamu ada waktu luang besok? Bisa ketemu di taman kota sepulang kamu kerja? Jam berapapun aku akan nunggu’’ tombol send akhirnya aku sentuh juga, dan saat itu juga konstraksi jantung bergerak cepat hingga lemas rasanya. Aku tidak jadi tidur, mata kembali terbuka lebar untuk menunggu balasan pesan. Semoga ada.
Sudah pukul 02.45 dini hari dan masih belum ada balasan juga. Sudah 30 menit menunggu sampai akhirnya ada satu pesan muncul di layar.
‘’Anda mendapat promo iRing GRATIS dari Gorgom Band- Kupungut Cintamu Dengan Alhamdulillah. Aktifkan promo ini dengan balas YA’’
Bangkeeeee!!! Saking kesalnya aku ingin segera terlelap, rasanya lelah, juga insecure. Mungkin setelah baca pesan itu dia berfikir, kenapa wanita ini gila sekali ngirim pesan jam segini. Ah ketahuan deh, kalo lagi rindu berat huhu.
Dua hari berlalu, tiga hari, empat hari dan belum ada balasan juga. Hingga akhirnya satu minggu sudah aku lalui dengan penantian  balasan pesan yang tak kunjung datang. Satu minggu pula aku jarang mandi, tidak shampoan dan lupa bagaimana cara tidur dengan layak, yang ada dalam pikiran hanya tebakan-tebakan tentang alasannya tidak membalas pesan. Apa dia tidak punya pulsa? Lupa caranya mengetik pesan? Tombol sendnya rusak? Jarinya tertukar dengan jari kaki? atau bisa saja handphonenya sedang digadaikan. Ah benar-benar kacau!
Satu minggu juga aku tidak kembali ke kota pelajar untuk mengikuti perkuliahan hanya untuk menunggu satu balasan pesan yang tidak ada kepastian. Serasa seperti jadi planet Pluto, diabaikan dan tidak diakui. Tidak pernah diakui sebagai wanita, dari dulu seperti itu selalu menganggapku sebagai ‘’gadis kecil yang tidak berarti apa-apa’’
Cling!...’’Maaf, baru bisa bales. Kirain kamu udah balik kuliah. Sekarang masih di rumah?’’
DEGG! Pupil mata melebar beberapa centi, melihat aksara-aksara itu bergantungan rapi di layar ponsel.
‘’Iya gapapa kok. Iya masih :D’’
‘’Sore ini bisa kok, emang mau ngomong apa? Atau mau ngopi film anime?’’
‘’Penting deh pokoknya, ya nanti aku sekalian bawa flash disk’’ aku pencet tombol ‘’send’’ sebelum kalimat itu terverifikasi dengan benar, dan akhirnya ngirim lagi ‘’Eh gak ngopi film deng, cuma mau ngomong doang haha’’ aku ngetik kalimat itu seolah-olah aku ceria, padahal gak begitu-begitu amat.
‘’Yaudah nanti sore aku hubungin lagi :D’’
‘’Y’’
Tidak apa-apa kan? Cuma jawab gitu, sok jutek dikit lah, meski aslinya udah loncat-loncat dan ekor sudah mau keluar saking girangnya. Yikhaaaaaaaaaaaaaa!
#...........................#
Dia sudah berdiri di ujung sana. Taman yang sudah kujanjikan untuk pertemuan antah berantah ini. Dari jarak sekitar 20 meter aku mengamatinya yang sedang duduk disalah satu bangku berwarna putih, lengan bangku itu sudah lecet dibeberapa tempat. Terkikis oleh sinar matahari atau hujan, atau entahlah. Mimiknya begitu bahagia ketika aku amati lebih dalam, itu seperti ekspresiku ketika mendapat pesan darinya. Aku tidak asing dengan ekspresi macam itu karena aku selalu merasakannya saat aku memikirkan hal-hal kecil tentangnya yang meski biasa saja. Aku berhenti di beberapa jarak yang sepertinya ia belum menyadarinya aku ada. Aku melihatnya. Melihat matanya. Tatapan bahagianya. Aku yakin, itu dia. Dia yang sedang bahagia dalam dunia virtualnya. Dia yang… sudah sadar aku ada.
‘’Eh hei, kirain mau ngerjain doang ngajak ke sini’’ ucapnya rileks dengan sedikit senyuman. Tangan kanannya yang tadi memegang ponsel langsung ia masukkan ke kantong, dan kebahagiannya pun lenyap terkubur dalam kantong itu.
Aku senyum seperti biasa. Ada keheningan dalam beberapa saat. Lalu semuanya musnah oleh suara angin yang melintas dan hanya menimbulkan gaduh olehku saja. Dadaku kembali berkontraksi cepat, semua ucapan seolah terperangkap dalam tenggorokan dan entah kapan akan aku tangkap.
Suhu panas tubuh menyebar dalam sekujur dada lalu menjalar ke wajah. Dan entah kenapa aku hanya bisa diam, di tempat itu bersama seseorang yang sedang memandang orang lain di jauh sana. Orang lain yang mengendap dengan indah di ponselnya.
‘’Kenapa?’’
Dia hanya bisa bertanya, dan aku hanya bisa bergeleng kepala dengan menutup wajah yang terus-menerus memanas. Entah kenapa aku bisa menangis di depannya. Semua kata-kata hilang berserakan oleh menit-menit yang semakin berjalan. ‘’Apa yang kamu lakukan sudah aku salah artikan, ternyata kebaikanmu cuma normatif belaka’’ kata-kata itu terperangkap di dinding tenggorokan. Aku hanya bisa diam, berdiri di depannya menjadi pihak yang lemah.
‘’Kamu nggak lagi ada masalah kan?’’
Dia terus-menerus melontarkan kalimat tanya. Tubuhnya mungkin sudah diprogram menjadi makhluk pengumbar kalimat tanya.
‘’Makasih udah datang’’ ucapku datar, dia hanya bisa memandangku dengan heran, matanya tidak menunjukan ekspresi yang aku temukan saat ia melihat ponselnya.
Kini, saat di depannya aku tidak bisa apa-apa. Bahkan untuk sekedar jujur dengan diri sendiri, jujur dengan perasaan sendiri. dan pada akhirnya cinta itu pun akan tetap diam. Entah kapan akan bersuara.
Aku membalikan badan, untuk segera meninggalkanya. Biarkan saja perasaan ini terperangkap. Entah apa yang aku takutkan, melihat matanya sudah menjawab bahwa penolakan yang akan aku dapat. Bertahun-tahun harusnya aku sadar, menunggunya secara elegan tidak akan merubah apapun, dia akan tetap di sana bersama dunianya, tempat di mana tidak akan pernah aku singgahi. Aku hanya wanita biasa, yang sedang mencintaimu secara kekanak-kanakan, aku tidak pernah mengerti bagaimana mencintaimu dengan dewasa dan elegan. Aku biarkan ini diam, menggantung di udara dan entah kapan aku akan memungutnya.
‘’Win?’’
Dia memanggil, dan aku juga merasa ada sesuatu yang menahan. Rasanya suhu tubuh kembali memanas. Tuhan! Dia menahanku.
‘’Ya?’’
‘’Ngg… anu’’
‘’Aku mau balik. Makasih udah mau datang, aku udah lega sekarang. Kamu jangan nahan-nahan’’
Aku merasakan dia sedang memegang ujung sweaterku, aku merasa ditahan untuk pergi. Rasanya pertahanan diri akan goyah. Aku ingin berbalik dan menatap wajahnya. Dan itu aku lakukan.
‘’Kamu jangan nahan aku per….’’
‘’Itu sweatermu nyangkut di paku kursi’’
Jengggggg…jengggg!!! Muka seperti di siram rebusan cuka. Rasanya bingung mau ketawa atau nangis. Aku kira dia memegang sweaterku untuk menahan pergi. Ternyata paku sialan itu yang  tidak rela aku beranjak kemana-kemana. Seperti hubungan ini, yang tidak akan beranjak bahkan 1 centipun.
‘’Hahahaa’’ aku hanya bisa ketawa. Dan diapun membuka mulutnya untuk tertawa juga.

Kenapa semuanya seperti menertawakan, bahkan paku yang tidak punya kehidupan pun, sanggup membuat amor dan humor secara gratis. Dan saat itupula aku sadar ‘’Saat aku tidak bisa memiliki sesorang untuk berbagi kesedihan, mungkin saja aku akan  mendapat seseorang untuk berbagi tawa, dengan seseorang yang membuat kesedihan itu sendiri’’.

To Be Continue~

MAGIC MINUTE Chapter I ''Menit di Ujung Senja''

Sebuah Cerpen 

MAGIC MINUTE



Chapter I
‘’Menit di Ujung Senja’’


Aku menendang-nendang kakiku karena gugup. Feromon mengalir deras dalam neurotransmitter yang melesat cepat bagai meteor yang berhasil menembus ozon. Degup jantung tak hentinya memanggil suhu panas dalam tubuh yang semakin membuatku tak bisa berfikir apapun kecuali, menunggunya dengan gaya santai. Gugup itu terhenti seketika, saat mata bulat itu muncul dan aku hanya menampilkan muka datar untuk menyambutnya.
‘’Hai!’’ Ucapnya dengan senyuman sembari melambaikan tangan kirinya, aku juga melihat tangan kanannya memegang plastik yang berisi jajanan.
Kini, di menit-menit menjelang senja aku dan dia berdiri di sebuah mini market. Perasaanku sudah mulai stabil ketika tangan kita berjabat untuk pembukaan salam. Dia terlalu banyak senyum, dan sayangnya itu indah. Aku juga menampilkan beberapa senyuman yang entah itu indah atau menggelikan baginya, aku tidak ingin memikirkan. Dari dulu, dia memang sudah imut sejak dalam pikiran.
‘’Kamu  gak beli jajan?’’
Aku hanya geleng kepala, sebagai tanda tidak ingin membeli apapun atau hanya sekedar untuk melemaskan otot-otot leher.
‘’Eh nih…’’ dengan santainya dia memberikan sesuatu berwarna hijau, bukan daun, apalagi duit 20 ribuan, dan yang aku tahu itu nori ‘’rumput laut’’ tapi seperti biasa, saking rendah hatinya aku berpura-pura tidak tahu.
‘’Itu apa?’’
‘’Udah makan aja. Langsung dimakan kalo enak, kalo gak doyan ya buang aja’’
‘’Oooh’’ aku menerima nori itu dan segera memasukan ke dalam tas.
Lalu, dia memberikan kantong plastik berwarna hitam yang berisi DVD. Dia memang sudah berjanji untuk memberiku film yang menurutnya harus kutonton karena banyak pelajaran dan kata-kata indah, dengan syarat aku harus serius untuk menontonnya. Setelah itu aku mengeluarkan gulungan kertas berwarna putih. Ragu saat itu, antara ingin memberikan atau harus aku simpan selamanya. Dan saat melihat matanya untuk beberapa kali akhirnya aku yakin, itu memang harus diberikan.
‘’Eh ini’’
‘’Apa nih?’’
‘’Eh itu…’’ beberapa detik aku kehilangan kontrol karena bingung untuk menjawab apa ‘’kan kamu ngasih DVD jadi aku ngasih ini, biar impas’’
Dari pertemuan ini memang tidak ada kata-kata indah atau adegan romantis seperti di FTV, hanya obrolan ini itu yang biasa saja. Dia mungkin dengan senang hati menerimanya, atau kalau boleh menebak, mungkin dia juga penasaran itu isinya apa, yang jelas itu bukan nori ‘’rumput laut’’. Ya, meski sama-sama digulung. Gelagatnya menunjukan dia akan membuka gulungan pemberianku itu. Eh, jangaaaan!!! Biarkan itu menjadi rahasia alam.
‘’Eh jangan dibuka di sini!’’
‘’Lah kenapa?’’
‘’Yaudah lah gajadi ngasih’’ dengan rada gugup aku hendak mengambil lagi gulungan ‘’keramat’’ itu.
‘’Yaudah… yaudah oke’’
Aku yakin dia penasaran apa isinya, tapi dia cukup gagah untuk menahan membuka di tempat. Gulungan keramat itu ia masukan ke kantong jaketnya yang berwarna kuning tua yang cenderung ke-orange-orange-an. Menit-menit pertama kita isi dengan obrolan ini itu yang tidak penting. Lalu ada sedikit penting, ketika ia membahas tentang masa kuliahnya dulu, menyinggung tentang fisika material. Sebagai mantan siswa jurusan IPA saat SMA, seenggaknya aku sedikit ngerti apa yang dia omongin. Ya, meski gak ngerti-ngerti banget. Tapi ngerti lah... dikit.
Aku tidak bercerita banyak, hanya membahas sedikit masa lalu tentang kegagalan. Dan dia mengerti ‘’Nggak apa-apa yang penting kamu udah dapat apa yang kamu butuhkan’’  Itulah kata-katanya yang lebih mudah dicerna dibanding obrolannya tentang fisika dan magnet-magnet. Aku hanya tersenyum, dia juga banyak senyum. Entah karena dia memang ramah orangnya atau memang sudah sejak dalam pikiran dia mudah senyum. ‘’Kamu jangan terlalu banyak senyum, nanti banyak yang suka. Aku cemburu soalnya’’ Ucapku dalam hati dan untungnya dia tidak mendengar. Kita akhirnya berpisah ketika senja sudah tidak menampakan apa-apa, hanya sepuluh menit waktu berjalan. Tapi, terasa sangat lama dan aku tidak ingin beranjak. Menit berharga yang merubah segalanya.
Darah mengalir sangat cepat setelah pertemuan singkat itu, sepanjang perjalan menuju rumah aku hanya senyum-senyum seperti orang gila yang susah kembali waras. Aku menyimpan ‘’nori’’ pemberiannya itu ke dalam lemari. Sampai kapanpun aku tidak akan berniat untuk memakannya, bahkan untuk sekedar memikirkannya.
‘’Gak nyangka itu gambar lukisan wajahku, aku kira gambar setan. Sempat hampir syok tadi. Haha keren, makasih banyak ya. Nanti mau aku pajang di kamar :D’’
Aku tersenyum-senyum geli ketika mendapat pesan darinya muncul di layar. Aku tidak bilang padanya kalau lukisan itu sudah dibuat sejak lama dan sebagai ungkapan perasaan. Dia pernah bilang ‘’Mengungkapkan perasaan tidak harus bicara. Boleh saja kamu memberikan sesuatu sebagai luapan perasaan. Tidak salah kalau wanita mengungkapkan, jadilah sekali-kali wanita yang berbeda. Buatlah kisahmu sendiri’’

Kita masih seperti biasa saling berkirim pesan dengan sedikit banyolan. Tak ada yang berubah. Dan untungnya dia tidak menyinggung sedikitpun tentang alasanku memberi lukisan itu ataupun curiga kalau-kalau aku ada perasaan, atau mungkin dia menutup  mata dan berpura-pura. Entahah, biarlah seperti ini, selalu seperti ini. Aku hanya ingin menikmati saat-saat ini. Dimana kamu ada, dan aku bisa merasakannya.

To Be Continue~